Rabu, 25 November 2015

Desa Ardimulyo

Peta : -




Profil  Desa Ardimulyo :
Luas Wilayah : 412,834 Ha
2017 :
Jumlah Penduduk :8.161 jiwa
Terdiri atas 8 RW , 50 RT
Potensi Desa : -


Wisata Kuliner : Malang Strudel

Pendidikan :
Jumlah TK : 6
Jumlah SD : 4

Sarana Kesehatan : 
Puskesmas : 1
Poliklinik/Balai Pengobatan : 2 
Praktek Dokter : 8
Bidan/Dukun Bayi : 4
Posyandu : 9

Kepala Desa : Riyanto (sejak 2012 , Menggantikan Sumarlan)

Desa Toyomarto


-Peta Online-
 
Peta Desa Toyomarto



Kantor Desa Toyomarto



Profil  Desa Toyomarto :
Luas Wilayah : 905 Ha
Jumlah Penduduk :
Potensi Wisata : Stupa Sumberawan & Watu Lumpang ( Diakui oleh UNESCO) , Agrowisata Kebun Teh, Balai Benih Inseminasi Buatan, Semen Beku, Kerajinan Sandal Spons, Klompen, dll

terdiri atas 7 Dusun : Bodean Krajan, Ngujung, Sumberawan, Bodean Putuk, Glatik,Petungwulung dan Wonosari .

Kepala Desa : Moh. Nari (2017)


Desa Toyomarto memiliki banyak potensi Wisata :

 Candi Sumberawan



 Situs Watu Lumpang


Agrowisata Teh Wonosari


Kelurahan Candirenggo

-Peta Online-
 


Profil  Kelurahan Candirenggo :
Luas Wilayah :
Jumlah Penduduk :
Potensi Wisata : Candi Singosari, Arca Dwarapala, Pemandian Kendedes.











Jumat, 10 April 2015

Candi Singosari



Candi Singosari  merupakan  saksi bisu dari kejayaan kerajaan Sinhasari di masa lampau. Candi yang memiliki keindahan dari segi bangunan ini masih menyimpan misteri yang belum terpecahkan. Tidak ada tanggal yang pasti , kapan Candi ini didirikan.

Minggu, 08 Maret 2015

Mbah Thohir





Mbah Tohir Singosari
MENYEBARKAN  ISLAM DI MALANG UTARA
 
Ponpes Mifthahul Falah, dimana temuan struktur bangunan kuno itu ditemukan, lebih dikenal sebagai Ponpes Bungkuk. Ponpes Bungkuk sendiri memang tak lepas dari sosok legenda, Mbah Chamimuddin. Mbah Chamimudin adalah eks laskar Pangeran Diponegoro yang tersisa dan lari ke daerah Malang Utara (Singosari dan sekitarnya). Perang Diponegoro antara tahun 1825 sampai 1830 memang membuat laskar Pangeran Diponegoro tercerai-berai di tahun 1830 seiring kematian Pangeran Diponegoro.

“Laskar-laskar Pangeran semburat dan tercecer di bagian selatan Jawa Timur seperti Malang, Trenggalek, Tulungagung bagian selatan. Makanya, jangan heran sampeyan banyak mengenal makam waliyullah di daerah Malang selatan seperti Gondanglegi ataupun Eyang Jugo di Gunung Kawi yang dikenal sebagai laskar Pangeran Diponegoro,” terang Dwi Cahyono, arkeolog Univ negeri Malang.

Dijelaskan Dwi, di tahun 1930 itu, ketika laskar tercerai berai, tidak berarti kekuatan memudar. “Laskar Pangeran Diponegoro tetap gerilya dan mencari dukungan penguasa-penguasa lokal, pesantren-pesantren, salah satunya adalah dukungan dari Kiai Maja. Kekuatan laskar Pangeran Diponegoro di Jawa Timur tidak melemah berbeda dengan di Solo atau Jogjakarta,” terang Dwi.

Lantas mengapa Chamimuddin memilih ke Malang utara? Ini tak lepas dari aura Singosari yang memiliki citra kuat sebagai kerajaan besar di masa lalu. “Setelah Majapahit berdiri, Kerajaan Singosari tetap diakui keberadaannya dan menjadi daerah fasal (semacam negara bagian) Kerajaan Majapahit. Tentu saja di situ beranak pinak keturunannya,” terang Dwi seraya mencontohkan sosok-sosok penting bagi Kerajaan Majapahit yang tinggal di Singosari.

“Sebut saja Bre Lasem, penguasa di Tumapel dan istrinya yang masih saudara Hayam Wuruk,” terang Dwi. Setelah Majapahit runtuh dan dikuasai Demak, otomatis status Singosari makin merosot terlebih di masa Mataram Islam. “Namun tetap, keberadaannya tetap berarti. Setelah itu, Singosari turun jadi Kadipaten Singosari, di barat Dwarapala itu ada kuburan yang dikenal dengan kuburan kadipaten,” terang Dwi.

Dengan berpulangnya Pangeran Diponegoro dan pasukannya tercerai-berai, Chamimuddin datang ke Malang dari arah selatan Malang. Kiai Chamimuddin masuk wilayah Singosari sekitar tahun 1830-1835. Tapi, menurut H. Munsyif, salah satu anggota keluarga Ponpes Bungkuk bahwa Kiai Chamimuddin mulai mendirikan pesantren dan langgar (musala) sekitar tahun 1850.
“Musala itu dari bambu biasa. Saat itu, tentu saja masih aneh kehadiran Mbah Chamimuddin di lingkungan yang masih banyak pemeluk agama Hindu dan abangan,“ terang H. Munsyif. Hal ini diamini oleh Dwi Cahyono. Menurutnya, saat itu tentu saja Mbah Chamimuddin tidak melakukan siar dengan cara langsung mendirikan pondok pesantren.

“Ia merintisnya sejak lama tentu saja dengan menetap dan melakukan pengajian kecil-kecilan. Datang ke rumah penduduk, siar Islam. Dan mungkin benar juga akhirnya ia mendirikan musala di tahun 1850 itu,” terang Dwi. Melihat santri Mbah Chamimuddin salat dengan gerakan membungkuk itulah, sehingga masyarakat Singosari di masa itu menyebutnya komunitas Bungkuk. Dan diwarisi turun temurun sampai ponpes itu disebut Ponpes Bungkuk.
Islam di zaman Mbah Chamimuddin masih berwajah Islam abangan. Mbah Chamimuddin yang menetap di Singosari kemudian diambil menantu oleh orang Singosari. “Agar Islamnya makin putih, Mbah Chamimuddin lantas menikahkan anak perempuannya dengan Kiai Tohir dari Bangil,” imbuh Dwi.
Hal ini juga dibenarkan H. Munsyif yang masih cucu langsung dari Mbah Tohir. “Beliau dikenal dan Mbah Chamimuddin menjadi kiai besar setelah mengambil mantu Kiai Tohir dari Bangil yang masih memiliki trah Ampel. Alhasil, waliyullah yang dikenal di Bungkuk dan sekitarnya sampai sekarang adalah Mbah Tohir,” terang H Munsyif.
Dengan demikian, maka Mbah Tohir disebut Dwi Cahyono sebagai embrional Ponpes Miftahul Falah dan Masjid At-Thohiriyah yang saat ini sedang direnovasi. Otomatis, setelah Mbah Chamimuddin berpulang, pemangku ponpes dan masjid adalah Mbah Tohir. “Masjid dan Ponpes Bungkuk sangat dikenal, sangat Nahdliyin, dan sangat diperhitungkan di Nahdlatul Ulama. Mereka juga bertarekat, Qodiriyah-Naqsyabandiah. Hal ini tak lepas dari sosok Kiai Tohir,” urai Dwi.
Menggantikan Mbah Chamimuddin, Mbah Tohir menikah dan memiliki lima orang anak. Salah satu putranya, Nahchowi Tohir yang menikah dengan M. Rukoiyah, memiliki sepuluh orang anak, dan salah satunya adalah H. Munsyif. Mbah Tohir berpulang tahun 1933, kini pemangku ponpes dipegang oleh Kiai Ahmad Hilmy, saudara Munsyif.

Pangeran Singosari
Dengan demikian, keberadaan Ponpes Bungkuk, juga penemuan kuno di sekitarnya alhasil mengisahkan islamisasi di Malang pada masa pemerintahan Mataram Islam, pemerintahan Belanda, hingga masa kemerdekaan. Pada tahun 1686, kawasan Malang menjadi ajang pertempuran antara kompeni Belanda yang membantu Amangkurat II melawan Untung Surapati. Ketika Untung Surapati berkuasa sebagai adipati di Pasuruan, selama 20 tahun kawasan Malang berada di bawah kekuasaannya (1686-1706)
Untung Surapati alias Wirabagara memiliki hubungan politis dengan Amangkurat III yang menyingkir ke Jawa Timur untuk bergabung dengan Untung Surapati. Kekuasaan Untung Surapati berakhir tahun 1706 setelah dikalahkan pasukan gabungan (VOC, Madura, dan Kartasura). Untung Surapati terbunuh di Bangil. Selanjutnya, putra-putra Untung Surapati bersama Amangkurat III melarikan diri ke Malang untuk melanjutkan perlawanan yang berlangsung 1706-1771.
Hal yang sama juga terjadi pada Trunajaya yang membangun benteng pertahanan di Ngantang, Malang sampai 1678. Trunajaya ditangkap di Karaeng Galengsong dan dimakamkan di lembah bukit Selakurung. “Sementara pasukannya mengungsi ke desa-desa di Malang. Boleh jadi beberapa tokoh pesiar Islam di Malang Barat dan Batu adalah mantan prajurit Trunojoyo,” terang Dwi Cahyono.
Dengan demikian, Dwi pun menyimpulkan bahwa Malang memang cocok untuk menjadi terugvall basis yakni basis untuk melakukan konsolidasi kekuatan sebelum melakukan penyerangan lebih lanjut. Penyingkiran ke Malang terus berlanjut sampai masa laskar Pangeran Diponegoro.
Antara tahun 1757 hingga 1825 para pemberontak VOC yang masih tersisa, atau mereka yang ingin berjuang terus berusaha mencari perlindungan di Malang yang ketika itu masih dikuasai oleh sanak keturunan Surapati. Di antara mereka ada pangeran Singasari, yakni saudara Hamengkubuwana I dan paman Pakubuwana III.
Pangeran Singosari dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18. Tahun 1757 Pangeran Singosari melakukan pemberontakan. Sebelumnya Pangeran Singosari dahulu juga ikut bergabung dalam kelompok Mangkubumi dan Mas Said. Ia pun tetap melanjutkan pemberontakan dengan dukungan keturunan Untung Surapati di Malang. Pangeran Singosari tertangkap tahun 1768. Pengadilan menjatuhinya hukuman buang, tetapi ia lebih dulu meninggal dalam tahanan Surabaya.
Ketenaran Pangeran Singosari inilah yang membuat Mbah Chamimuddin datang ke Singosari. Dwi Cahyono tak bisa menjelaskan lebih jauh tentang sosok yang satu ini. “Saya hanya tahu sampai di situ, yang jelas ia masih keluarga Hamengkhubuwana I dan paman Pakubhuwana III. Yang jelas itu juga bukan nama sebenarnya,” terang Dwi.
Dijelaskan, nama Singosari memang berkait dengan daerah Singosari Malang. “Itu adalah nama yang menunjukkan tanah lungguh atau linggih, yakni tanah kedudukan,” terang Dwi. Dengan kenyataan-kenyataan ini, ada kemungkinan selain membentuk kekuatan di Singosari, Pangeran Singosari juga melakukan islamisasi. Kedua hal inilah yang diikuti Mbah Chamimuddin. Ponpes Bungkuk, dipastikan Dwi Cahyono sebagai komunitas tertua di Singosari.
Dwi, dalam sebuah makalahnya, bisa jadi warga kilalan (komunitas pedagang asing) yang ada di ibu kota vazal Majapahit di Singosari adalah pedagang yang beragama Islam. Dengan demikian komunitas muslim di Bungkuk sudah ada sebelum Mbah Chamimuddin datang. “Tapi itu perlu riset lebih jauh,” terang Dwi.

Komunitas muslim di Bungkuk memang sudah mengakar terlebih kini masjidnya direnovasi. Dua mantan menteri agama Indonesia juga merupakan santri di ponpes tua dengan santri yang makin lama makin berkurang. “Ada satu kebanggaan di masjid ini, yakni lubang yang dipakai oleh Mbah Tohir untuk melihat Kakbah di Makkah sana. Hanya ada dua di Indonesia,” tutur Sholeh, keturunan Mbah Tohir menutup cerita.*

-          Dikutip Dari berbagai sumber.-

Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912 M) merupakan momentum penting lahirnya Muhammadiyah

Nahdatul Ulama disingkat NU, yang merupakan suatu jam’iyah Diniyah Islamiyah yang berarti Organisasi Keagamaan Islam. Didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H




 Acara HAUL KH. M. Thohir

Sabtu, 01 November 2014

Buah Langsep Singosari Langka






Langsep , ikon Singosari yang mulai langka


    Ada yang menyebutnya buah Langsep, ada juga yang menyebutnya buah Langsat . Buah ini mirip dengan buah Duku , tetapi memiliki rasa yang khas, kulitnya agak tipis.
    Di era sebelum tahun 1990an, buah Langsep Singosari terkenal sebagai salah satu ikon di Singosari. Konon, ketika musim  Langsep datang, Presiden Sukarno dulu pernah memerintahkan utusan dari istana negara untuk memesan buah ini khusus dari Singosari untuk dikirim ke Istana negara.
    Buah langsep dan duku Singosari sangat terkenal di kalangan pelancong maupun warga Malang Raya sendiri. Tapi sayangnya, keberadaan pohon langsep dan duku nampaknya sudah kurang diminati untuk ditanam. “Mungkin karena warga juga semakin kekurangan lahan. Sehingga minat untuk menanam langsep maupun duku jauh berkurang,” jelas Kasmad dan Asmad dari kelompok tani Wulangsari Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang beberapa waktu lalu.
    Hal ini juga diimbangi dengan perhatian yang kurang dari Pemkab Malang terhadap tanaman yang telah menjadi salah satu ikon Kabupaten Malang ini. Karena itu, poktannya yang mengembangkan tanaman keras ini juga vakum. Tapi pelestari tanaman yang sudah sepuh ini nampaknya mulai sedikit bersemangat ketika ada pihak lain yang berusaha mengembangkan lagi buah ini. Kata mereka, jalan-jalan di sekitar Candi Singosari dulu menjadi sentra tanaman langsep maupun duku.
     Kekhasan buah langsep Singosari, jelas Asmad, adalah kulitnya agak tebal dibanding langsep dari daerah lain, lubang cecepnya agak lebar dan rasanya manis. Kemanisan buah langsep, kata Asmad ketika buah-buah yang sudah agak kuning dibungkus antara 35-40 hari dan selalu dikontrol. Ketika ada sekitar 20 persen dari buah yang dibungkus itu busuk, berarti, buah itu sudah siap dipetik. Menurutnya, tiap pohon memiliki khas rasa sendiri. “Kalau yang ada yang kecut, mungkin kematangannya baru 50 persen,” celetuk Kasmad.
    Siyono , yang pernah menjabat Camat Singosari menyatakan hasratnya mengembangkan lagi tanaman langsep dan duku Singosari yang menjadi ikon wilayahnya. “Saya sendiri kesulitan mendapatkan ketika mencarinya. Sehingga berencana mengembangkan di Singosari,” kata Siyono. Ini dilakukan agar buah ini tidak musnah dari Singosari. Padahal selama ini, wisatawan lokal yang belanja oleh-oleh di Singosari ada memburu langsep dan duku Singosari. Menurutnya, karena pasokan buah itu sangat minim di Singosari sendiri, langsep dan duku yang beredar berasal dari kecamatan lain yaitu Tumpang dan Poncokusumo
     Berbeda dengan duku, tanaman Langsep lebih sulit dikembangkan. butuh waktu minimal 5 tahun untuk bisa melakukakan panen buah pertama





Manfaat Buah Langsat,Langsep atau Duku. Bagi anda yang termasuk gemar dalam mengkonsumsi buah-buahan, maka tentu saja anda akan mengetahui salah satu jenis buah yang bernama Langsat. Mungkin bagi sebagian orang banyak yang memiliki persepsi bahwa buah langsat merupakan salah satu jenis buah yang bentuknya mirip dengan buah duku. Apabila dilihat dari segi bentuk, warna kulit dan struktur daging nya memang sangat mirip dengan buah duku, akan tetapi perbedaan yang sangat mendasar dari buah langsat dan buah duku dapat diketahui dari rasa, biasanya buah langsat rasanya lebih asam jika dibandingkan dengan buah duku yang memiliki rasa yang lebih manis.
Bagi anda yang menyukai rasa asam, tentu saja buah ini dapat menjadikan salah satu buah yang anda sukai, berikut adalah beberapa manfaat dari mengkonsumsi buah langsat baik untuk kesehatan maupun digunakan sebagai obat tradisional untuk berbagai macam penyakit.
 



 

Manfaat Buah Langsep/Langsat

Kandungan Gizi Buah Langsep 
Karena buah langsep merupakan salah satu buah yang kaya manfaat, maka tidak heran jika buah yang satu ini mengandung banyak gizi yang tentunya sangat baik bagi kesehatan. dalam 100 gram buah langsep terdapat sebanyak Kalori (10 kal), Karbohidrat (13 g), Mineral (0,7 g), Protein (1 g), Zat besi (0,9 mg), Lemak (0,2 g), Kalsium (18 mg), dan Fosfor (9 mg).
Baik untuk Kesehatan Tulang dan Gigi 
Kandungan kaya akan fosfor yang terdapat dalam buah langsep yang berguna sebagai suatu zat pembentuk tulang dan gigi. Sehingga dapat bermanfaat untuk membantu pertumbuhan dan menguatkan tulang dan gigi kita dan mencegah terjadinya pengeroposan pada tulang dan gigi yang biasanya terjadi pada manula.
Digunakan sebagai Obat Penyakit Kanker 
Selain daging langsat yang dapat bermanfaat bagi kesehatan, kulit langsat pun dapat dijadikan sebagai salah satu obat alami untuk penyakit kanker. Komposisi kandungan yang terdapat dalam buah langsep seperti vitamin, mineral dan serat tersebut dapat berguna untuk mengobati sel-sel kanker yang berhubungan dengan sistem pencernaan manusia.
Digunakan sebagai Obat Demam 
Manfaat dari buah langsep selanjutnya yaitu terdapat pada bagian bunga langsat yang juga berkhasiat dan dapat digunakan menjadi salah satu obat alami untuk obat demam. Selain itu, biji langsat pun dapat digunakan sebagai penurun panas. Salah satu cara yang dapat anda lakukan untuk mengkonsumsinya adalah dengan cara mengeringkan biji langsat tersebut, setelah itu lalu ditumbuk hingga halus, kemudian biji langsep yang telah dihaluskan tersebut diseduh dengan air hangat dan di minum. Lakukan cara penyembuhan alami tersebut secara rutin
Untuk Membantu Program Diet 
Bagi anda yang sedang menjalankan program penurunan berat badan, anda dapat menambahkan buah langsat sebagai camilan anda tanpa takut angka timbangan berat badan anda mengalami kenaikan. Selain memiliki rasa yang asam, serat yang terkandung dalam buah langsat akan membantu memperlancar sistem pencernaan, dengan demikian dapat membantu keberhasilan program diet anda.
Digunakan sebagai Obat Malaria 
Ternyata buah langssep merupakan salah satu buah yang kaya akan manfaatnya, tahukah anda bahwa selain daging, biji, kulit, dan bunga pada buah langsat ternyata pohon langsat pun dapat dimanfaatkan sebagai obat malaia. Beberapa penelitian juga sudah membuktikan keampuhan tanaman langsep dalam mengobati malaria, anda dapat menggunakan kulit dari pohon buah langsep secukupnya.
Antioksidan 
Selain dapat dijadikan sebagai pencegah kanker, dengan mengkonsumsi buah langsep juga ternyata berguna untuk menangkal radikal-radikal bebas yang disebabkab oleh polusi udara, makanan, dan melemahnya sistem imun dalam tubuh.


Kamis, 01 Mei 2014

FORUM KIM SINGOSARI


KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) secara struktural adalah bagian dari binaan Dinas Perhubungan dan Informasi. Pembentukan KIM didasarkan pada
1. PP No. 38 Tahun 2007; tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah, pemerintahan daerah provinsi, dan pemerintahan Daerah kabupaten/kota.
2. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI No. 17 Tahun 2009; tentang Diseminasi informasi nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah daerah Kabupaten/Kota, tanggal 17 Maret 2009.
3. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI No. 08/PER/M.KOMINFO/6/2010; tentang Pedoman Pengembangan dan Pemberdayaan Lembaga Komunikasi Sosial.
Melalui musyawarah terbatas, dengan pembina KIM dari Dinas Perhubungan dan Informasi Kabupaten Malang, Sekcam Singosari dan beberapa ketua KIM yang telah terbentuk di Kecamatan Singosari, telah dibentuk Forum KIM kecamatan Singosari.
Disepakati selaku Ketua Forum KIM Kecamatan Singosari adalah M. Maghfur dari kelurahan Candirenggo, Sekretaris Bachtiar H dari Kel. Candirenggo, dan Bendahara Rozikin dari Banjararum.
Forum KIM ini akan bertugas untuk mensosialisasikan KIM kepada seluruh masyarakat, dengan target masyarakat familier tentang apa itu KIM, apa fungsi KIM, apa manfaat dan keuntungan KIM, dan mau memanfaatkan KIM untuk segala kepentingannya.
Saat ini di Singosari dari 17 Desa baru terbentuk KIM  di 5 Desa/Kelurahan, yaitu Kelurahan Candirenggo, Kelurahan Losari, Desa Gunungrejo, Desa Randuagung, dan Desa Tunjungtirto.
Kedepan tugas dari Forum KIM Kecamatan Singosari ini adalah membentuk KIM di semua desa/kelurahan se kecamatan Singosari.
Secara singkat bisa diinformasikan bahwa tujuan pembentukan KIM ini adalah:
  • Kelompok Informasi masyarakat (KIM) sebagai mitra kerja pemerintah dalam menyampaikan informasi dan komunikasi kepada  masyarakat.
  • Kelompok Informasi masyarakat (KIM) sebagai mediator komunikasi dan informasi dari pemerintah untuk masyarakat dan sebaliknya secara berkesinambungan.
  • Kelompok Informasi masyarakat (KIM) sebagai penerima, penyebar informasi yang berinteraksi sesama anggota masyarakat guna meningkatkan tingkat kesejahteraannya.
 Adapun tugas Kelompok Informasi Masyarakat  diantaranya:
  • Mewujudkan masyarakat yang aktif, peduli, peka dan memahami informasi.
  • Memberdayakan masyarakat agar dapat memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan dan bermanfaat.
  • Mewujudkan jaringan informasi serta media komunikasi dua arah antara masyarakat dengan masyarakat maupun dengan pihak lainnya.
  • Menghubungkan satu kelompok masyarakat dengan kelompok yang lainnya untuk mewujudkan kebersamaan, kesatuan dan persatuan bangsa.